Adab
Berkunjung dan Bertamu
Diantara sekian sarana yang dapat mempererat ukhuwah dan kasih sayang sesama muslim adalah dengan
saling mengunjungi. Pernah suatu ketika seseorang pergi mengunjungi saudaranya
di desa yang lain. Kemudian di tengah jalan malaikat yang berwujud manusia
bertanya kepadanya : ‘Mau kemanakah anda?’ Ia menjawab: ‘Saya ingin mengunjungi
saudara saya di desa ini’. Malaikat itu bertanya lagi: ‘Apakah anda mempunyai
sesuatu keuntungan yang akan diperoleh
darinya’. Ia menjawab: ‘Tidak, Saya hanya mencintainya karena Alloh’. Malaikat
itu kemudian berkata: ‘Saya adalah utusan Alloh kepadamu dan Alloh telah
mencintaimu sebagaimana engkau mencintai saudaramu itu’ (HR. Muslim 2567).
Oleh karena itu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam
bertamu atau berkunjung agar berbuah rahmat dan kasih sayang:
1.
Tidak
berkunjung pada waktu-waktu istirahat sebagaimana yang tersebut dalam ayat Isti’dzan
(minta izin) (an Nuur:58) yaitu: sebelum sholat subuh, pada waktu tidur siang dan setelah sholat Isya.
2.
Memberitahukan
tuan rumah terlebih dahulu dan tidak datang secara mendadak kecuali karena
urusan yang sangat penting. ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha berkata: ‘Tatkala Nabi
diizinkan untuk hijrah ke Madinah, beliau mengagetkan kami karena datang siang
hari kemudian Abu bakr diberitahukan perihal itu dan Abu bakr berkata:
مَا جَاءَنَا النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - فِى هَذِهِ السَّاعَةِ
، إِلاَّ لأَمْرٍ حَدَثَ
Tidaklah Nabi mendatangi kita di
waktu seperti ini kecuali karena ada sesuatu yang telah terjadi (HR. al Bukhori 2138).
3. Mengucapkan salam kepada sohibul bait (tuan rumah) tatkala telah
tiba (Shohih al Adab al Mufrod 420). Jika tuan rumah tidak ada atau ia menyuruh
untuk kembali maka hendaknya sang tamu pulang (QS.
An Nuur; 28).
4.
Tidak
mengetuk pintu dengan keras. Anas bin Malik berkata:
إِنَّ
أَبْوَابَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَتْ تُقْرَعُ بِالأَظَافِيْرِ
Sesungguhnya pintu-pintu Nabi
diketuk dengan menggunakan kuku
(HR. al Bukhori dalam “Al Adabul Mufrod” no.1080. Berkata Syaikh Albani:
“Shohih”).
5.
Disunnahkan
untuk bersalaman ketika bertemu. Qotadah berkata: ‘Aku bertanya kepada Anas :
“Apakah para sahabat Nabi bersalaman?”. Ia menjawab : ‘Ya’ (HR. al Bukhori
6263). Namun diharamkan untuk menyalami wanita yang bukan mahromnya (HR. Ahmad
26466, at Tirmidzi 1597).
6.
Tidak
duduk di tempat duduk khusus buat sohibul bait kecuali dengan seizinnya.
Rasululloh r
bersabda:
وَلاَ
يَقْعُدْ فِى بَيْتِهِ عَلَى تَكْرِمَتِهِ إِلاَّ بِإِذْنِهِ
Janganlah duduk di rumahnya di atas
tempat duduk khususnya kecuali dengan izinnya (HR. Muslim 673).
7.
Tidak
diperbolehkan untuk meneliti seisi rumah sohibul bait kecuali jika diizinkan.
Dari Abu Hurairah Rasululloh r
bersabda:
مَنِ
اطَّلَعَ فِى بَيْتِ قَوْمٍ بِغَيْرِ إِذْنِهِمْ فَقَدْ حَلَّ لَهُمْ أَنْ يَفْقَئُوا
عَيْنَهُ
Barangsiapa yang meneliti rumah
orang-orang tanpa izin maka telah halal untuk dicongkel matanya (HR. Muslim 2158).
8.
Dalam
bercakap-cakap dengan sohibul bait hendaknya dijauhi perkataan yang terlarang
secara syar’I baik itu menggibah orang lain atau berbohong untuk membuat orang
tertawa. Nabi bersabda:
وَيْلٌ
لِلَّذِى يُحَدِّثُ بِالْحَدِيثِ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ فَيَكْذِبُ وَيْلٌ لَهُ
وَيْلٌ لَهُ
Celaka bagi orang yang menceritakan
sesuatu agar membeuat orang lain tertawa. Celaka baginya…Celaka baginya…(HR. Abu Dawud 4990 dan dihasankan oleh Syaikh Albani). Dari Jabir
bin Abdillah ia berkata: ‘Kami pernah bersama Rasululloh kemudian terciumlah
bau bangkai yang sangat busuk maka beliau berkata:
« أَتَدْرُونَ مَا هَذِهِ الرِّيحُ
هَذِهِ رِيحُ الَّذِينَ يَغْتَابُونَ الْمُؤْمِنِينَ »
Kalian tahu bau apakah ini?Ini
adalah bau orang-orang yang menggibah orang-orang yang beriman (HR. Ahmad, al Bukhori dalam ‘Al Adabul Mufrod dan dihasankan oleh
Syaikh Albani dalam Shohih at Targhib wat Tarhib 2840).
9.
Tidak
mengapa bagi seseorang untuk berbicara sambil menikmati hidangan yang diberikan
oleh sohibul bait. Ishaq bin Ibrohim berkata: ‘Saya pernah makan malam bersama
Abu Abdillah (Imam Ahmad) dan kerabatnya. Kemudian kami diam sedangkan beliau
makan sambil mengucapkan: “Alhamdulillah wa bismillah”. Kemudian ia berkata:
“Makan dan bertahmid lebih baik daripada makan sambil diam” (Al Adab as
Syar’iyyah 3/163).
10.
Disunnahkan
untuk mendoakan sohibul bait yang telah menghidangkannya sesuatu sekalipun hanya
air putih. Diantara do’a tersebut adalah:
اللَّهُمَّ
أَطْعِمْ مَنْ أَطْعَمَنِى وَأَسْقِ مَنْ أَسْقَانِى
Ya Alloh, berilah makan orang yang
telah memberikan saya makan dan berilah minum orang yang telah memberikan saya
minum (HR. Muslim 2055).
اللَّهُمَّ
اغْفِرْ لَهُمْ وَارْحَمْهُمْ وَبَارِكْ لَهُمْ فِيمَا رَزَقْتَهُمْ
Ya Alloh, ampunilah mereka,
rahmatilah mereka dan berkahilah apa yang Engkau rizqikan kepada mereka (HR. Muslim 2042, Ahmad 17220).
أَفْطَرَ
عِنْدَكُمُ الصَّائِمُونَ وَأَكَلَ طَعَامَكُمُ الأَبْرَارُ وَصَلَّتْ عَلَيْكُمُ الْمَلاَئِكَةُ
Orang-orang yang berpuasa telah
berbuka di sisimu, Orang-orang yang baik telah memakan makananmu dan malaikat
telah berdo’a buatmu (HR. Abu Dawud
3854 dan dishohihkan Albani rohimahulloh). Sebagian Ulama mengkhususkan do’a
yang ketiga ini hanya tatkala berbuka puasa di rumah orang lain namun
kebanyakan Ulama menggunakannya secara umum baik tatkala berbuka puasa maupun
yang lainnya (Al Adab as Syar’iyyah3/218).
11.
Dianjurkan
untuk mengucapkan do’a kaffaratul majelis tatkala akan beranjak keluar rumah.
Dari ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anhu ia berkata: ‘Bahwasanya Rasululloh jika duduk
dalam suatu majelis atau sholat, beliau mengucapkan beberapa kalimat”. Maka
‘Aisyah menanyakan tentang kata-kata tersebut. Maka beliau menjawab : “Jika
berbicara kebaikan maka itu adalah stempelnya sampai hari kiamat dan jika
berbicara yang jelek maka itu sebagai peleburnya yaitu :
سُبْحَانَكَ
اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
Maha Suci Engkau, ya Alloh dan
dengan pujianMu saya minta ampun dan bertaubat kepadaMu (HR. an Nasai 1344, Shohih at targhib 1518).
12.
Tidak
terlalu sering berkunjung atau bertamu . Namun jika
sahabat karib maka tidak mengapa.
Dari Habib bin Maslamah Rasululloh bersabda:
زُرْ
غِبًّا تَزْدَدْ حُبًّا
Berkunjunglah jarang-jarang karena
akan menambah kecintaan (HR. Ibnu Hibban 620, at Thobroni, Shohih lighairihi, lihat
Shohih at Targhib 2583).
Dari ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha Ia
berkata:
وَلَمْ
يَمُرَّ عَلَيْنَا يَوْمٌ إِلاَّ يَأْتِينَا فِيهِ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه
وسلم - طَرَفَىِ النَّهَارِ بُكْرَةً وَعَشِيَّةً
Tidaklah berlalu suatu hari kecuali
Rasululloh selalu mendatangi kami pagi maupun sore (HR. al Bukhori 6079). Ibnu Baththol berkata: ‘Sahabat karib
tidaklah banyaknya berkunjung kecuali akan menambah kecintaan berbeda dengan
selain mereka’ (Al Fath 10/515). Walhamdulillah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar