Translate

04/04/13

Keistimewaan Islam buat Faqir Miskin


Keistimewaan Islam buat  Faqir Miskin

Kemiskinan dan kekayaan merupakan ujian dari Alloh Ta’ala buat hambaNya. Tidak semua orang yang diluaskan rizqinya merupakan pertanda ia dimuliakan dan tidak semua orang yang disempitkan rizqinya berarti ia dihinakan. Karena di dalam Islam kemuliaan hanya didapatkan dengan menta’ati Alloh, beriman dan mencintaiNya sehingga tidak ada perbedaan anatara si kaya dengan si miskin di sisi Alloh kecuali dengan ketaqwaan. Namun amat disayangkan jika kebanyakan orang menilai kemuliaan seseorang dengan materi saja sehingga tidak jarang mencemooh para fakir miskin. Padahal kalau ditilik secara seksama kaum fakir miskin memiliki keutamaan yang tidak dimiliki orang-orang berada, diantaranya:
1.      Fakir miskin adalah penduduk surga yang terbesar. Dari ‘Imron bin Husain t, Rasululloh r bersabda:

اطَّلَعْتُ فِي الْجَنَّةِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا الْفُقَرَاءَ
Saya melihat ke surga dan mayoritas penghuninya adalah orang-orang faqir (HR. al Bukhori 6547).
2.      Mereka adalah orang-orang pertama yang masuk surga. Dari Abu Hurairoh t Rasululloh r bersabda:

يَدْخُلُ فُقَرَاءُ الْمُسْلِمِينَ الْجَنَّةَ قَبْلَ أَغْنِيَائِهِمْ بِنِصْفِ يَوْمٍ وَهُوَ خَمْسُ مِائَةِ عَامٍ
Fuqoro kaum muslimin lebih dahulu masuk surga dari orang-orang kaya setengah hari yaitu 100 tahun (Shohih Sunan at Tirmidzi 2472).
3.      Mereka adalah orang-orang yang pertama kali menuju al Haudh (Telaga Nabi di Mahsyar). Dari Tsauban t Rasululloh r bersabda:
أَوَّلُ النَّاسِ وُرُودًا عَلَيْهِ فُقَرَاءُ الْمُهَاجِرِينَ الشُّعْثُ رُءُوسًا الدُّنْسُ ثِيَابًا الَّذِينَ لَا يَنْكِحُونَ الْمُتَنَعِّمَاتِ وَلَا تُفْتَحُ لَهُمُ السُّدَدُ
Orang-orang  yang pertama kali mendatangi (telaga) adalah Fuqoro’ Muhajirin yang rambutnya acak-acakan, yang lusuh pakaiannya, Jika melamar wanita-wanita kaya ia akan ditolak dan jika meminta izin untuk masuk maka ia tidak akan diberikan (HR at Thobroni 2/99,100, as Shohihah 1082).
4.      Mereka adalah orang-orang yang pertama kali melewati as Shiroth (jembatan di atas neraka jahanam). Dari Tsauban t bahwa seorang laki-laki Yahudi pernah bertanya kepada Nabi r : “Dimanakah manusia tatkala hari digantikannya bumi dengan bumi dan langit yang baru (QS. Ibrohim : 48).? Beliau menjawab :”Mereka dalam kegelapan sebelum jembatan”. Ia bertanya lagi: “Siapakah orang-orang yang pertama kali melewati jembatan?”. Beliau menjawab : “Fuqoro’ al Muhajirin”…(HR. Muslim 135).
5.      Kebanyakan dari pengikut Rasul adalah fakir miskin. Alloh ta’ala berfirman:
Mereka berkata: "Apakah Kami akan beriman kepadamu, Padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?" (QS. As Syu’araa’:111). Hiraklius berkata kepada Abu Sufyan tatkala bertanya tentang Nabi Muhammad r : “Saya menanyakan kepadamu apakah yang mengikutinya para pembesar atau orang-orang lemah, engkau menjawab bahwa yang mengikutinya adala orang-orang lemah dan memang merekalah pengikut para Rasul” (HR. al Bukhori 7).
6.      Jika mereka bersumpah dengan nama Alloh maka akan dikabulkan. Dari Haritsah bin Wahb al Khuza’I t, ia mendengar Rasululloh r bersabda:
أَلا أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ الْجَنَّةِ كُلُّ ضَعِيفٍ مُتَضَعِّفٍ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ
Maukah saya beritahukan kalian tentang penduduk surga yaitu semua orang yang lemah lagi diremehkan (karena keadaannya di dunia) jika mereka bersumpah dengan nama Alloh maka akan dikabulkan (HR. al Bukhori 4918).
7.      Rasululoh tidak khawatir kaum muslimin mengalami kefaqiran justru beliau khawatir terhadap orang-orang kaya. Dari Abu Ubaidah t, Rasululloh r bersabda:
فَوَاللَّهِ مَا الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ وَلَكِنْ أَخْشَى عَلَيْكُمْ أَنْ تُبْسَطَ عَلَيْكُمُ الدُّنْيَا كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا وَتُلْهِيَكُمْ كَمَا أَلْهَتْهُمْ
Demi Alloh, tidaklah kefaqiran itu aku takutkan bagi kalian, tetapi aku khawatir dunia ini dilapangkn bagi kalian sebagaimana telah dilapangkan bagi orang-orang sebelum kalian lalu kalian akan berlomba-berlomba mengejarnya sebagaimana mereka dan melalaian kalian sebagaimana telah melalaikan mereka (HR. al Bukhori 6425).
8.      Sesungguhnya pertolongan dan rizqi dari Alloh disebabkan orang-orang lemah dengan do’a, sholat dan keihkhlasan mereka. Dari Sa’d  t Rasululloh r bersabda:
إِنَّمَا يَنْصُرُ اللَّهُ هَذِهِ الْأُمَّةَ بِضَعِيفِهَا بِدَعْوَتِهِمْ وَصَلَاتِهِمْ وَإِخْلَاصِهِمْ
Hanya saja Alloh menolong ummat ini karena orang-orang lemah mereka dengan do’a, sholat dan keihkhlasan mereka (HR. an Nasa’I 2/65, As Shohihah 779).
9.      Mencintai kaum miskin memiliki beberapa faedah yaitu dapat mendorong keikhlasan, menghilangkan kesombongan, dan membuat hati menjadi lembut. Seseorang pernah mengadukan tentang keras hatinya kepada Rasululloh r maka beliau berkata:

إِنْ أَرَدْتَ تَلْيِيْنَ قَلْبِكَ ، فَأَطْعِمِ الْمِسْكِيْنَ وَ امْسَحِ رَأْسَ الِيَتِيْمِ
Jika kamu ingin lembut hatimu mka berilah makan orang miskin dan usaplah kepala anak yatim (HR. ahmad 2/263, As Shohihah 854).
10.  Meninggalkan untuk memberi makan kaum miskin merupakan salah satu sifat dari penduduk neraka. Alloh ta’ala berfirman:
Dan juga dia tidak mendorong (orang lain) untuk memberi makan orang miskin (QS. Al Haqqah: 34).
11.  Disegerakannya siksaan bagi orang yang menghalangi untuk memberi makan kaum miskin sebagaimana dikisahkan dalam surat Nun ayat 17-27 tentang pemilik kebun yang berniat untuk tidak memberikan sebagian panennya kepada orang-orang miskin kemudian Alloh membuat tanamannya menjadi hancur di malam hari.
12.    Diantara sebab ampunan adalah memberi makan pada hari kelaparan. (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau kepada orang miskin yang sangat fakir. Alloh berfirman tentang orang-orang yang seperti ini :
y
Mereka adalah golongan kanan (QS. Al Balad 18).
13.  Islam menyebutkan kaum miskin sebagai salah satu pilihan dalam kaffarah puasa (QS. Al Baqoroh: 184), Dzihar (QS. Al Mujadilah: 4), Sumpah (QS. Al Maaidah: 89).
14.  Kaum miskin yang menghadiri pembagian warisan berhak mendapat bagiannya (QS. An Nisaa’: 8).
15.  Dalam hal pemberian nafkah kaum miskin diutamakan setelah kedua orangtua dan kerabat dekat (QS. Al Baqoroh: 215).
16.  Kaum miskin merupakan salah satu yang berhak menerima harta ghanimah (QS. al Anfaal: 41), zakat (QS. at Taubah: 60),dan Fa’I (QS. al Hasyr: 7).
17.  Nabi r berdo’a agar dihidupkan dalam keadaan tawadhu’ seperti kebanyakan orang miskin. Beliau berdo’a:
اللَّهُمَّ أَحْيِنِى مِسْكِينًا وَأَمِتْنِى مِسْكِينًا وَاحْشُرْنِى فِى زُمْرَةِ الْمَسَاكِينِ
      Ya Alloh, hidupkan saya dalam keadaan miskin, matikan saya dalam keadaan miskin dan bangkitkan saya bersama kelompok orang-orang miskin (HR. at Tirmidzi 2353 dan dihasan lighairikan-kan oleh Syaikh Albani dalam Irwaul Ghalil 3/358-363). Berkata al Baihaqi: “Beliau r  (dalam hadits ini) tidaklah meminta kemiskinan yang bermakna miskin papa namun yang dimaksud adalah dalam keadaan  merendahkan diri dan tawadhu” (Silsilah As Shohihah 1/555 hadits no. 308). Walhamdulillah.



oleh: Ust.Ali Sulis




Rahasia indah di balik adanya Penyakit


Rahasia indah di balik adanya Penyakit
Tatkala mendengar nama ‘penyakit’ maka kebanyakan orang akan menampakkan wajah muram karena tidak menyukainya. Hal itu karena hanya dipandang dari satu sudut saja yaitu sisi kehidupan dunia sehingga yang terbayang hanya sesuatu yang menyedihkan saja sedangkan melihatnya dari kaca mata akherat sangatlah minim orang yang memahaminya. Di kala banyak terjadi bencana dan musibah yang tidak sedikit menelan korban, seorang mukmin hendaknya menilik bahwa di sana  ada manfaat dan rahasia yang terkandung di balik ujian tersebut. Diantara faedah dari adanya suatu penyakit dan musibah adalah :
1.      Melatih kesabaran dan optimisme
Seorang mukmin yang telah bertauhid dan senantiasa menjaga syariat Alloh tidak ada rasa takut bagi mereka dan tidak pula bersedih hati karena beratnya cobaan di dunia masih sebelum seberapa dibandingkan dengan cobaan di akhirat kelak. Tatkala Nabi pernah menemui seorang pemuda yang sedang sakit akan meninggal dunia. Nabi bertanya kepadanya: ‘Bagaimana keadaanmu?’. Sang pemuda menjawab:’Aku mengharap rahmat Alloh dan aku khawatir terhadap dosa-dosaku’. Maka Nabi pun bersabda:’ Tidaklah terkumpul dalam diri seseorang yang seperti ini melainkan Alloh akan memberinya apa yang ia harapkan dan mengamankan apa yang ia takuti’ (HR. At Tirmidzi 983, Shohih At Targhib 3383).
2.      Musibah dan penyakit yang menimpa sekelompok orang akan memberikan pelajaran dan manfaat bagi kaum yang lain. Di kala orang lain tertimpa bencana -nas’alulloh as salamah wal ‘afiyat- dan penyakit maka barulah terasa nikmatnya rasa aman, sentosa dan kesehatan bagi yang tidak tertimpa musibah ini. Dengan mengetahui hal ini maka konsekuensinya adalah banyak bersyukur kepada Alloh Ta’ala.
3.      Hiburan bagi jiwa kaum mukmin dengan ampunan dosa. Dikeluarkan oleh Al Bukhori dalam Shahih –nya bahwa Rasululloh bersabda: ‘Tidaklah seorang mukmin ditimpa penyakit, gundah, sedih dan gangguan sampai duri yang menusuknya melainkan itu semua adalah penghapus kesalahannya’. Oleh  karena itu para salaf berkata: ‘Kalau bukan karena musibah maka kita akan datang pada hari kiamat sebagai orang yang bangkrut’. Dalam riwayat Ibnu Hibban (2908) dari hadits Abu Hurairah Rasululloh bersabda: ‘Sesungguhnya ada seseorang yang derajatnya di sisi Alloh yang ia peroleh bukan karena amalannya namun karena senantiasa Alloh mengujinya dengan sesuatu yang ia tidak senangi sampai mencapai kedudukan tersebut’ (Shohih At Targhib 3408). Berkata Salam bin Muthi’: ‘Ya, Alloh jika Engkau meninggikan derajat hambaMu yang sholih dengan musibah maka tinggikanlah derajatku dengan keselamatan’.
4.      Dekatnya Alloh kepada hambaNya yang sedang sakit. Dalam sebuah hadits Qudsi Alloh Ta’ala berkata:
أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ عَبْدِى فُلاَنًا مَرِضَ فَلَمْ تَعُدْهُ أَمَا عَلِمْتَ أَنَّكَ لَوْ عُدْتَهُ لَوَجَدْتَنِى عِنْدَهُ
Tidakkah kamu mengetahui bahwa hambaKu si fulan sakit, tapi engkau tidak menjenguknya. Tidakkah engkau mengetahui sekiranya engkau menjenguknya maka engkau akan dapati Aku di dekatnya (HR. Muslim 2569).
5.      Munculnya berbagi macam peribadahan hati seperti tawakkal, berdo’a, inabah (pasrah  kepada Alloh), roja’ (berharap hanya kepadaNya) , taubat dan takut kepada Alloh semata. Berkata Wahb bin Munabbih: ‘Turunnya musibah adalah untuk mengeluarkan do’a. Alloh Ta’ala berfirman:
Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi apabila ia ditimpa malapetaka, Maka ia banyak berdoa (QS. Fushshilat: 51).
6.      Menjauhkan sifat sombong, ujub dan bangga diri sendiri. Jika manusia  terus menerus berada dalam kesehatan dan keamanan maka ia akan melampaui batas di muka bumi ini. Begitulah sifat manusia, kadang-kadang menginginkan sesuatu padahal akan mengantarkan kepada kehancurannya, tidak suka terhadap sesuatu padahal di sanalah kebahagiaannya yang hakiki. Merasa aman dari adzab Alloh dan tidak takut siksa Alloh yang datang tiba-tiba baik ketika mereka tidur nyenyak maupun tatkala bersenda gurau di pagi hari. Oleh karena itu Alloh menimpakan penyakit, kesusahan, dan musibah sehingga membuat mereka merendah diri kepadaNya dan menghiba hanya kepadaNya. Itulah rahasia mengapa seorang musafir, orang yang dzholimi dan orang yang berpuasa mustajab doa’anya. Karena hati mereka tatkala itu betul-betul mengadu dan menghiba hanya kepada Alloh ‘Azza wa jalla. Tatkala seseorang sudah putus harapan kepada makhluk maka ia akan menggantungkan harapannya hanya kepadaNya. Dikala masa genting itulah pertolongan akan datang.
7.      Penyebab pulihnya banyak penyakit yang lain
Penyakit-penyakit tertentu akan membuat tubuh mengeluarkan dzat-dzat beracun yang terakumulasi di dalamnya sehingga ia sebenarnya adalah obat tersendiri. Seperti penyakit huma (demam panas karena malaria) dapat memberikan manfaat bagi tubuh bahkan ia lebih bermanfaat dari meminum banyak obat, Oleh karena itu Nabi berkata: ‘Tidak ada penyakit yang lebih aku sukai selain huma’ karena ia masuk di seluruh anggota badanku dan Alloh ‘Azza wa jalla memberikan pahala di setiap organ tubuh’ (Shohih Al Adab Al Mufrod  388/503). 

oleh: ust.Ali Sulis




Hanya Al Qur'an yang selalu otentik…


Hanya Al Qur'an yang selalu otentik…

Salah satu sisi dari indahnya agama Islam adalah keotentikan dari kitab sucinya sepanjang masa sebagai bukti bahwa ia diturunkan dari Robb semua makhluq di langit dan di bumi selaku kitab terakhir yang membenarkan dan menyempurnakan kitab-kitab sebelumnya. Alloh Ta'ala berfirman:
Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya kami benar-benar memeliharanya (QS Al Hijr: 9). Alloh Ta'ala juga berfirman:
Dan kami Telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan sebagai saksi terhadap kitab-kitab yang lain itu (Al Maaidah: 48). Berkata sebagian Ulama ahli tafsir "Muhaiminan 'alaih" maknanya sebagai saksi atas kitab-kitab sebelumnya, membenarkan apa yang benar dalam kitab terdahulu serta menafikan penyelewengan, penggantian, perubahan yang terjadi di dalamnya dan sebagai hakim dengan menghapus atau menetapkan kembali hukum-hukum dari kitab-kitab yang telah lalu. Oleh karena itu semua orang yang berpegang teguh dengan kitab-kitab terdahulu pasti akan tunduk kepada Al Qur'an dan serta merta akan masuk Islam. Alloh Ta'ala berfirman:
Dan apabila dibacakan (Al Quran itu) kepada mereka, mereka berkata: "Kami beriman kepadanya; sesungguhnya; Al Quran itu adalah suatu kebenaran dari Tuhan kami, Sesungguhnya kami sebelumnya adalah orang-orang yang membenarkan(nya) (QS. Al Qoshos: 53).
Sisi persamaan dari kitab-kitab samawi (yang diturunkan dari langit seperti Zabur, Taurat, Injil dan Al Qur'an) adalah Sumbernya satu yaitu dari Alloh Ta'ala (QS. Ali Imron: 1-4), tujuannya satu yaitu mengajak untuk beribadah kepada Alloh saja tidak menyekutukanNya (QS. An Nahl: 36), mengandung masalah-masalah aqidah, kaidah-kaidah umum yang butuh dijelaskan kepada manusia seperti masalah pahala dan siksa, penyucian jiwa (QS. Al A'la: 14-19), masalah keadilan (QS. Al Hadid: 25), masalah akhlaq yang baik, memerangi kerusakan dan penyimpangan dalam aqidah, akhlaq atau penyimpangan dari fitroh serta membahas masalah ibadah (QS. Al Anbiya': 73).
Adapun segi perbedaannya adalah dalam masalah syari'at secara khusus. Syari'at nabi Isa berbeda dalam beberapa perkara dengan syari'at nabi Musa alaihis salam, begitu pula syari'at nabi Muhammad r berbeda dengan syariat nabi Isa alaihis salam dan Musa alaihis salam dalam banyak hal. Alloh Ta'ala berfirman:
Untuk tiap-tiap umat diantara kamu Kami berikan aturan dan jalan yang terang (QS. Al Maaidah: 48).
Sebagai contoh:
1-      Puasa. Dahulu orang yang berpuasa dibolehkan berbuka (makan), minum, jima' dari terbenamnya matahari sampai terbitnya fajar selama ia tidak tidur. Jika tidur maka diharamkan baginya makan, minum dan jima' sampai terbenamnya matahari pada hari kedua. Kemudian Alloh memberikan keringanan bagi ummat Islam untuk makan, minum atau jima' sampai terbitnya fajar apakah ia tidur maupun tidak. Alloh Ta'ala berfirman:
Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam (QS. Al Baqoroh: 187).
  1. Menutup aurat tatkala mandi tidaklah wajib bagi bani Israel sebagaimana dalam hadits Abu Hurairoh t dari Nabi r bersabda:
كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ يَغْتَسِلُونَ عُرَاةً ، يَنْظُرُ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ ، وَكَانَ مُوسَى يَغْتَسِلُ وَحْدَهُ
Bani Israel dahulu mandi dengan telanjang, sebagian mereka melihat sebagian yang lainnya sedangkan Musa mandi seorang diri (HR. Al Bukhori 278, Muslim 339).
  1. Dalam perkara-perkara yang diharomkan seperti:
-          Halalnya bagi nabi Adam menikahkan putra-putrinya kemudian setelah itu diharamkan selama-lamanya.
-          Mengumpulkan dua wanita bersaudara dalam satu atap dahulu banyak dilakukan seperti yang dilakukan nabi Ya'qub dengan menikahi dua sepupunya yang bersaudara yaitu Layya dan Rohil lalu hal itu diharomkan dalam taurat, demikian pula dalam ajaran Islam.
-          Alloh Ta'ala mengharamkan bagi Yahudi sebagaimana dalam firmanNya:
ö
Dan kepada orang-orang Yahudi, kami haramkan segala binatang yang berkuku dan dari sapi dan domba, kami haramkan atas mereka lemak dari kedua binatang itu, selain lemak yang melekat di punggung keduanya atau yang di perut besar dan usus atau yang bercampur dengan tulang. Demikianlah kami hukum mereka disebabkan kedurhakaan mereka; dan Sesungguhnya kami adalah Maha benar (QS. Al An'am: 146). Kemudian datang nabi Isa menghalalkan sebagian yang telah diharamkan tersebut lalu syariat Islam datang dengan kaidah umum : menghalalkan yang baik-baik dan mengharamkan yang jelek.
 Keistimewaan syariat Islam dengan syari'at-syari'at sebelumnya adalah ia umum untuk semua manusia sampai hari kiamat bukan hanya untuk suatu kaum atau zaman tertentu saja sebagaimana syari'at-syari'at terdahulu.
Namun kitab injil dan taurat yang ada sekarang ini telah mengalami penggantian, pengurangan, penyelewengan, penghapusan dengan banyak bukti diantaranya:
  1. Penyandaran kepada kitabnya telah terputus sanadnya
  2. Mengandung aqidah rusak yang sangat bertentangan dengan aqidah yang diajarkan dalam kitab taurat dan injil yang asli.  Alloh Ta'ala menerangkan hancurnya aqidah mereka dengan firmanNya:
(ž
Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Alloh dari apa yang mereka persekutukan (QS. At Taubah: 31). Islam mendudukkan nabi Isa dan ibunya dalam posisi yang adil bahwa mereka termasuk hamba-hamba Alloh yang mulia namun tetap sebagai manusia biasa. Alloh Ta'ala Robb sekalian makhluq berfirman:
Al masih putera Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang Sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan.Perhatikan bagaimana kami menjelaskan kepada mereka (ahli Kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), Kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat kami itu) (QS. Al Maaidah: 75).  Undang- undang Keimanan Al Masih yang dikeluarkan gereja pusat Roma tahun 325 M mengeluarkan pernyataan: "Yesus Al Masih adalah anak Allah yang Esa yang dilahirkan dari bapak sebelum adanya masa, cahaya dari cahaya, sesembahan yang benar dari sesembahan yang benar, dilahirkan bukan sebagai makhluq...".
Padahal dalam kitab asli mereka  justru menetapkan keesaan Alloh Ta'ala, seperti[1]:
1. Dari Kitab Perjanjian Baru[2] (New Testament). Dalam Injil Marqus (Fasal 12/28-32) bahwa seorang Yahudi bertanya kepada Al Masih (nabi Isa) :" Wasiat apakah yang paling pertama dari semua wasiat? Maka Yesus menjawab: "Sesungguhnya wasiat pertama adalah 'Dengar wahai Bani Israil Robb sesembahan kita adalah Robb yang satu dan hendaknya engkau mencintai Alloh dari semua hati dan jiwamu, pikiranmu, usahamu, inilah wasiat yang pertama..". Demikian pula dalam Injil Yohanna (Fasal 17/1-3), dan Injil Matta (Fasal 4/8-10).
2. Dalam Kitab Perjanjian Lama (Old Testament). Wasiat yang pertama dari sepuluh wasiat yang Alloh wahyukan kepada Musa alaihis salam yang di tulis dalam lembaran-lembaran seperti dalam kitab Al Khuruj (Fasal 20/1-4): " Aku adalah Robbmu, sesembahanmu yang mengeluarkanmu dari Mesir dari rumah peribadahan. Tidaklah ada bagimu sesembahan yang lain di depanKu. Janganlah kamu membuat patung yang dipahat dan tidak pula gambar dengan apa yang ada di atas langit, di bawah bumi dan di dasar air. Jangan kalian sujud kepada mereka dan beribadah kepada mereka". Dalam Kitab Akhbarul Ayyamul Awwal (Fasal 17/20) Dawud 'alaihis salam berkata kepada Alloh 'azza wa jalla: "Ya, Alloh tidak ada yang semisalMu, tidak ada sesembahan selainMu. Cukuplah apa yang kami dengar dari telinga kami".
3.Isinya mencela para nabi yang itu tidak pernah ada dalam semua kitab asli Injil dan Taurat. Diantara Perubahan dan penyimpangan yang ada dalam kitab taurat Yahudi di masa ini:
-          Yahudi menyatakan dalam kitab Taurat 'produk mereka' bahwa Nabi Sulaiman alaihis salam telah murtad dan ia menyembah patung (Kitab Mulukul Awwal Fasal 11/5). Selain itu mereka mengatakan nabi Dawud alaihis salam berzina sehingga lahirlah Sulaiman! (Kitab Samuel II Fasal 11/ 11)
Padahal Alloh telah memuji nabi Dawud dan Sulaiman dengan firmanNya:
Dan kami karuniakan kepada Daud, Sulaiman, dia adalah sebaik- baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya) (QS. Shaad: 30).
-          Yahudi juga menyatakan bahwa Nabi Harun alaihis salam membuat patung anak sapi/lembu kemudian menyembahnya. (Kitab Al Khuruj Fasal 32/1).
Padahal yang benar itu adalah perbuatan Samiri dan diingkari dengan keras oleh Nabi Harun sebagaimana firman Alloh Ta'ala:
ô(
Dan Sesungguhnya Harun telah berkata kepada mereka sebelumnya: "Hai kaumku, Sesungguhnya kamu hanya diberi cobaan dengan anak lembu itu dan Sesungguhnya Tuhanmu ialah (Tuhan) yang Maha pemurah, Maka ikutilah aku dan taatilah perintahku" (QS. Thaha: 90).
-          Yahudi menyatakan bahwa Kholilulloh Ibrohim alaihis salam mempersembahkan istrinya (Sarah) kepada Fir'aun untuk mendapatkan harta yang banyak (Kitab At Takwin Fasal 12/14). Kenyataan yang sebenarnya adalah Nabi Ibrohim dipaksa menyerahkan istrinya kepada sang raja yang dzholim namun Alloh Ta'ala menyelamatkannya sebagaimana dijelaskan Nabi r dalam hadits Abu Hurairoh t (HR. Al Bukhori no. 3358).
-          Yahudi menyatakan bahwa nabi Luth alaihis salam meminum khomer sampai mabuk dan berzina dengan anak gadisnya… !!! (Kitab At Takwin Fasal 19/ 30).
Sungguh jelek apa yang mereka buat-buat dengan tangan mereka sendiri. padahal Alloh Ta'ala berfirman memuji nabi Luth:
Sesungguhnya Luth benar-benar salah seorang rasul. (Ingatlah) ketika Kami selamatkan dia dan keluarganya (pengikut- pengikutnya) semua (QS. As Shaffat: 133-134).
Demikian pula kitab Injil 'imitasi' berperan dalam menghina para nabi yang dimuliakan Alloh. Diantaranya:
-          Nasrani  menyatakan bahwa para nabi bani Israil adalah pencuri dan pencopet (Injil Yohana Fasal 10/8). Padahal Alloh Ta'ala memuji para nabi tersebut  dengan firmanNya: Dan Sesungguhnya mereka pada sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang paling baik (QS. Shaad: 47).
- Kaum nasrani menyatakan bahwa kakek Sulaiman alaihis salam dan Dawud alaihis salam yaitu Farid keturunan Yahudza bin Ya'qub dari keturunan zina !! (Injil Matta Fasal 1/11).
Demikianlah dua ummat yang dijelaskan oleh Alloh Ta'ala dalam Surah Al Fatihah Al Magdhu bi 'alaihim (yang dimurkai yakni yahudi) dan Dhoollun (sesat  yakni Nasrani) melecehkan para nabi dengan tuduhan yang membuat tubuh merinding dan mengatakan bahwa ini adalah kitab yang diturunkan Alloh ! Mereka berbohong dari dua sisi, menisbatkan hal ini sebagai wahyu dan berdusta kepada para nabi dan Rasul. Lalu apakah pantas kemudian ada yang orang yang masih bersih fitrohnya mengatakan bahwa semua agama sama !?.

oleh: ust. ali Sulis





[1] Dikutip dari tulisan Magister DR. Sa'd Rustum dalam kitabnya: "Al Anajil Al Arba'ah wa Rosail Bulus wa Yohana Tanfi Uluhiyyatal Masihi Kama Yanfihal Qur'an", Islamabad Pakistan 1997/1417 H
[2] Yang dimaksud dengan Kitab Perjanjian Baru adalah Injil dan risalah para rasul sedangkan Kitab Perjanjian Lama adalah Taurat.