Seiring dengan berlalunya waktu, sistem kehidupan manusia pun
semakin maju dan penuh dengan dinamika perkembangan terutama dalam mencari
penghidupan. Profesi manusia juga semakin beraneka ragam baik di bidang
pertanian, perdagangan, industri, jasa dan lainnya.
Pada dasarnya Islam membolehkan semua jenis profesi selama profesi
itu bukan sesuatu yang haram atau mengantarkan kepada yang haram yang dapat
merusak agama, jiwa, keturunan, akal dan harta. Oleh karena itu di dalam Islam
tidak pernah dikenal istilah “nganggur” baik di rumah maupun di dalam masjid
hanya untuk beribadah. Bahkan para nabi pun yang diutus oleh Alloh Ta’ala
semuanya memiliki profesi dan mata pencaharian tertentu. Alloh Ta’ala berfirman
tentang Nabi Dawud ‘alaihis salam:
أَنِ اعْمَلْ سَابِغَاتٍ وَقَدِّرْ فِي السَّرْدِ
Buatlah baju besi yang besar-besar dan ukurlah
anyamannya (QS. Saba’:11).
Rasululloh r
bersabda
tentang Nabi Zakariya :
كَانَ زَكَرِيَّاءُ نَجَّارًا
Zakariya dahulunya adalah seorang tukang kayu (HR. Muslim 2379).
Rasululloh r
menerangkan profesinya sebagai penggembala kambing:
كُنْتُ أَرْعَاهَا عَلَى قَرَارِيطَ لأَهْلِ
مَكَّةَ
Dahulu saya menggembala kambing dengan upah beberapa dinar untuk
penduduk Makkah (HR. al Bukhori
2143). Demikian pula para sahabat, tabi’in dan salafus sholih yang lainnya rodhiyallohu
‘anhum tidak mau ketinggalan dengan profesinya. Abu Bakr, Abdurrahman bin ‘Auf,
Tholhah bih ‘Ubaidillah dan Muhammad bin Sirrin adalah penjual bibit dan
rempah-rempah. Umar bin Khaththob menjual kulit sedangkan Utsman bin ‘Affan
selain berdagang juga memproduksi makanan dan menjualnya. Zubair bin Al Awwam,
‘Amr bin Al Ash dan Abu Hanifah semuanya pedagang dan penjual sutera. Ali bin
Abi Tholib terkadang beliau menjadi buruh dan berkerja kepada orang Yahudi
sampai tangannya berbekas lecet. Utsman bin Tholhah adalah seorang penjahit
sedangkan Sa’d bin Abi Waqqosh membuat panah dan mengambil upah dari merautnya
(Talbis Al Iblis 345, Al Mabsuth 30/248, At Tobaqot Ibnu Sa’d 3/184, Al Hilyah
1/70, lihat Ahkamul Hirfah, Aziz bin Farhan hal.76).
Faedah Mencari Pekerjaan atau Profesi
Islam menyuruh pemeluknya untuk mencari pekerjaan atau profesi
adalah demi kebahagiaan mereka dunia dan akhirat. Disamping itu ada beberapa
tujuan mulia dari hal ini yaitu:
1.
Menjaga
kehormatan manusia
Hal itu dengan menciptakan kehidupan
yang mulia dan menjauhkan diri dari kehinaan dengan mengemis kepada orang lain.
Hal ini diajarkan oleh Nabi dengan dua cara :
a.
Menjelaskan
tentang haramnya meminta-minta tanpa ada daruratnya atau sekedar untuk
memperbanyak harta. Dari Abdulloh bin ‘Umar rodhiyallohu anhuma Rasululloh r
bersaba:
مَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَسْأَلُ النَّاسَ
حَتَّى يَأْتِىَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَيْسَ فِى وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ
Senantiasa seseorang itu meminta-minta kepada manusia sampai nanti
ia akan datang pada hari kiamat tidak ada pada wajahnya sekeratpun daging (HR. al Bukhori 1405, Muslim 1040). Abdulloh bin Umar rodhiyallohu
‘anhuma berkata: ‘Sekiranya aku mati karena usahaku sendiri untuk mencukupi
kebutuhanku lebih aku sukai daripada mati berperang di jalan Alloh’ (Talbis
Al Iblis , Ibnul Jauzi hal.454). Bahkan bagaimana kehormatan diri mereka sangat
dijaga salah seorang sahabat yaitu Tsauban t maula Rasululloh r tidak mau meminta orang lain memunguti cemetinya yang terjatuh ke
tanah.
b.Menjelaskan tentang keutamaan seorang mukmin yang kuat dari
mukmin yang lemah karena Islam tidaklah mengajarkan ummatnya untuk menjadi
sampah dan beban masyarakat. Langit tidaklah menurunkan emas dan rupiah, oleh
karena itu sifat malas harus dibuang untuk menjadi manusia yang bermartabat.
Rasululloh r
bersabda:
مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا
مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ
Tidaklah seseorang memakan suatu makanan yang lebih baik dari makanan
hasil tangannya sendiri (HR .al
Bukhori 1966). Ummul Mukmini rodhiyallohu ‘anha berkata:
كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ - صلى
الله عليه وسلم - عُمَّالَ أَنْفُسِهِمْ
Para sahabat Rasululloh r
adalah pekerja untuk diri mereka
(HR. al Bukhori 1965).
2.
Menciptakan
masyarakat islam yang kuat
Sebagaimana mengemisnya seseorang merupakan kehinaan maka
ketergantungan suatu bangsa kepada bangsa lainnya merupakan bukti lemahnya
bangsa tersebut. Sebaliknya adanya industri, teknologi dan informasi yang maju
merupakan pertanda kuatnya bangsa atau masyarakat tersebut. Alloh Ta’ala
berfirman:
وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ
الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآَخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ
Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa
saja yang kamu sanggupi dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang yang
dengannya kamu menggetarkan musuh Alloh, musuhmu dan orang-orang selain mereka (QS. Al Anfaal: 60). Tidak mungkin suatu ummat bisa
menggetarkan dan membuat takut musuhnya kecuali dengan kesungguhan mereka untuk
membuat alat-alat persenjataan canggih yang menunjukkan kekuatan akal, ilmu
dan badan mereka. Disebutkan dalam
sejarah bagaimana Rasululloh r
mengutus para sahabatnya seperti Urwah bin Mas’ud
dan Gailan bin Salamah untuk mempelajari bagaimana penggunaan dabbabat
(alat perang yang terbuat dari kulit dan kayu yang dimasuki oleh beberapa
orang, sejenis tank di zaman ini) dan minjaniq (alat perang yang
digunakan untuk melempar batu, panah atau yang lainnya ke arah musuh) kemudian
mempraktekkannya pada perang Thoif (Siroh An Nabawiyah Ibnu Hisyam 2/478,
Imta’ul Asma’, Al Muqrizy 1/366).
3.
Ta’awwun
(tolong-menolong) dalam mencari penghidupan
Sesungguhnya Alloh Ta’ala menciptakan makhluq dan
menjadikan mereka pemakmur bumi ini. Diantara mereka ada yang diberikan
keluasan rizqi dan diantaranya juga ada yang hanya diberikan sekedarnya saja
untuk sebuah hikmah yaitu agar satu sama lain saling bantu-membantu. Alloh
ta’ala berfirman:
نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا
وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّا
Kami telah membagi penghidupan mereka dalam kehidupan dunia dan
kami mengangkat sebagian mereka beberapa derajat agar mereka saling
memperbantukan (QS. Az
Zukhruf: 32).
Berkata As Syaukani rohimahulloh menerangkan hikmah tersebut:’Hal
itu adalah perbedaan antara mereka. Alloh menjadikan sebagiannya lebih utama
dari yang lain di dunia dalam masalah rizqi, kepemimpinan, kekuatan,
kemerdekaan, akal, ilmu kemudian Alloh Ta’ala menyebutkan hikmahnya :”Agar
mereka saling bantu membantu” yaitu satu sama lain slaing memperbantukan.
Yang kaya memperbantukan yang faqir, pemimpin memperbantukan rakyat, yang kuat
memperbantukan yang lemah, yang merdeka memperbantukan yang budak, yang pintar
memperbantukan yang kurang pintar, yang alim memperbantukan yang tidak alim dan
ini adalah keumuman dalam urusan dunia yang dengannya sempurnalah kemaslahatan
mereka, terpenuhilah penghidupannya dan satu sama lain tercapai keinginannya.
Semua produk dunia ada yang bisa diproduksi dengan bagus oleh suatu kaum
sedangkan yang lain tidak bisa sehingga sebagiannya membutuhkan kepada yang
lainnya untuk memperoleh persamaan dalam dalam penghidupan dunia…(Fathul Qodir
4/554). Walhamdulillahi robbil ‘alamin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar