Translate

05/08/13

NASEHAT DI PENGHUJUNG RAMADHAN (oleh: Mush'ab Abdurrahman al Bimawy)



                Marilah kita panjatkan puji syukur kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas segala nikmat-Nya. Kita bersyukur telah melewati sebagian besar dari bulan yang mulia ini, yaitu bulan Ramadhan. Bulan yang memiliki begitu banyak keutamaan dan di syariatkan di dalamnya berbagai macam ibadah yang mulia. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menerima segala amal kebaikan kita di dalamnya, Baik berupa puasa, qiyamul lail, qiroatul qur’an, sodaqoh dan amalan-amalan yang lainnya.
                Shalawat serta salam kepada panutan kita nabi Muhammad sallallahu’alaihi wasallam dan kepada keluarga beliau, sahabat beliau, serta orang-orang yang selalu mengikuti atau yang selalu istiqomah di atas sunnah sampai hari kiamat kelak.
                Tidak lupa pula pada kesempatan yang berbahagia ini, melalui mimbar Jum’at yang mulia ini kami mewasiatkan kepada diri kami sendiri dan jama’ah sekalian untuk selalu meningkatkan ketaqkwaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan ketaqwaan yang sebenar-benarnya.  Sesungguhnya ketaqwaanlah sebaik-baik bekal baik di dunia maupun di akhirat kelak. Allah ta’ala berfirman :
……………………………………………………………………………………………………………….......................................
“Berbekallah kalian dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa dan bertaqwalah kepadaKu wahai orang-orang yang berakal”
                Waktu  begitu cepat berlalu, kini kita telah berada di penghujung Ramadhan. Sekarang kita telah berada pada hari ke-24 Ramadhan yang artinya tinggal beberapa hari lagi bulan suci ini akan pergi meninggalkan kita semua. Kalau kita perhatikan masyarakat di sekeliling kita, sebagian mereka mulai disibukkan dengan hiruk-pikuk Idul Fitri. Luapan kegembiraan sudah terasa. Mall-mall menjadi padat, lalu lintas padat menyarap. Banyak rumah-rumah berganti cat, baju baru dan makanan enak telah siap.
                Jika demikian gempitannya masyarakat kita berbahagia di penghujung akhir Ramadhan, tidak demikian dengan para sahabat dan salafussholih. Semakin dekat dengan akhir Ramadhan, kesedihan justru menggelanyuti generasi terbaik itu. Tentu saja kalau tiba hari raya Idul Fitri mereka bergembira karena pada saat itu adalah hari kegembiraan.
                Namun di akhir Ramadhan ini ada nuansa kesedihan yang sepertinya jarang orang miliki di masa sekarang ini(illa man rahima rabbih).
                Mengapa para sahabat Nabi dan orang-orang sholih bersedih ketika Ramadhan akan meninggalkan mereka ? ………………………………………………………………………
1.       Patutlah orang-orang beriman bersedih ketika menyadari Ramadhan akan pergi. Sebab dengan perginya bulan suci itu, pergi pula barbagai keutamaan.
Bukankah ramadhan bulan yang paling berkah yang pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup, bukankah hanya dibulan suci ini syaitan-syitan dibelenggu ??? maka ibadah  terasa ringan kemudian kaum muslimin berada dalam puncak ibadah.
………………………………………………………………………………………………………………………………………….
“telah datang kepada kalian bulan yang penuh berkah, diwajibkan atas kalian ibadah puasa, dibukakan pintu-pintu syurga dan  ditutuplah pintu-pintu neraka dan serta para syaiton dibelenggu”.
Bukankah hanya dibulan ramadhan seluruh amal kebajikan dilipat gandakan hingga tiada batasannya ??????
Semua keutamaan itu takkan bisa ditemui lagi ketika ramadhan pergi, ia akan datang pada bulan ramadhan berikutnya, padahal tidak ada diantara yang dapat memastikan apakah ia masih hidup dan sehat pada bulan ramadhan yang akan datang, maka pantaslah jika para sahabat nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang sholeh bersedih bahkan menangis ketika ramadhan akan pergi.
2.       Peringatan dari rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya Ramadhan menjadikan seseorang diampuni dosanya, jika seseorang mendapati ramadhan sebulan bersamanya dalam peluang besar yang penuh keutamaan masih saja belum mendapatkan ampunan dari Allah, maka benar-benar orang itu sangat rugi bahkan celaka. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
…………………………………………………………………………………………………………………………………………………..
“celakalah seseorang yang mendapati ramadhan kemudian ramadhan berlalu namun dosanya belum diampuni”
Masalahnya adalah, apakah seseorang bisa menjamin bahwa dirinya mendapatkan ampunan itu sementara jika ia tidak dapat ampunan dari Allah ta’ala, ia celaka, betapa hal yang tidak dipastikan itu menyentuh rasa khauf para sahabat nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang sholih. Mereka takut sekiranya menjadi orang-orang yang celaka karna tidak mendapatkan ampunan dari Allah ta’ala, padahal ramadhan akan segera pergi. Maka merekapun menangis, meluapkan ketakutannya kepada Allah seraya bermunajat kepada Allah agar amal-amalnya diterima oleh Allah ta’ala

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………
“wahai Rabb kami terimalah puasa kami, sholat kami, ruku’ kami, sujud kami, dan tilawah kami. Sesungguhnya engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda yang diriwayatkan oleh imam bukhori
……………………………………………………………………………………………………………………………………
“Sesungguhnya setiap amal itu tergantung dengan penutupnya”
Untuk itu ada beberapa nasehat yang hendaknya diperahatikan oleh kita semua dipenghujung ramadhan ini:
1.       Meningkatkan ibadah kepada Allah ta’ala

Kegiatan rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat awal dibulan ramadhan sama seperti bulan-bulan sebelumnya, tetapi begitu memasuki sepuluh hari terakhir dibulan ramadhan beliau mengecangkan ikat pinggang beliau artinya beliau bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada Allah, dan beliau pula tidak menggauli istri-istri beliau karna beliau I’tikaf. Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: Bahwasanya rasulullah apabila masuk kesepuluh hari terakhir, beliau mengecangakn kain sarungnya, menghidupkan malamnya dan membangunkan istri-istri beliau.  Dan demikian juga para sahabat nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para salafus sholeh setelahnya, mereka menjadikan penghujung ramadhan untuk fokus beribadah kepada Allah, meraka puasa disiang harinya dan bangun berdiri dimalam harinya untuk beribadah kepada Allah ta’ala.

2.       Istiqomah

Sesungguhnya amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang istiqomah. Jangan sampai kita menjadikan amalan ramadhan hanya sebagai amalan musiman. Dengan berakhirnya ramadhan bukan berarti berakhir pula segala amalan kita hendaknya kita senantiasa menjaga sholat dan ibadah kita lainnya baik yang wajib maupun yang sunnah. Masih banyak puasa sunnah di luar ramadhan seperti puasa syawwal, puasa 3 hari tiap bulan, puasa senin kamis dan puasa-puasa lainnya. Semoga kita semua senantiasa beribadah kepada Allah sampai kematian menjemput kita. Allah ta’ala berfirman

………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

“Dan sembahlah Rabb mu sampai datang kepadamu alyaqin(yakni ajal)”.
Dan intinya adalah kita tidak hanya beribadah kepada Allah hanya pada bulan ramadhan saja akan tetapi pada bulan-bulan yang lain juga.

3.       Menghidupakan tunutnan rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Sebaik-sebaik petunjuk adalah petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karna ia adalah qudwah hasanah kita dalam segala hal, Allah berfirman:

“sesungguhnya telah ada pada diri rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu”
Dan juga karna semua amalan hanya akan diterima jika memenuhi dua syarat yaitu ikhlas kepada Allah(memurnikan ibadah hanya kepada Allah) dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Untuk itu hendaknya kita berusaha menhidupkan tuntunan rasulullah dalam segala hal dan diantara petunjuk rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dipenghujung ramadhan ini adalah I’tikaf apalagi disepuluh malam yang terakhir, Aisyah radiyallahu ‘anha berkata: rasulullah I’tikaf disepuluh hari terakhir dibulan  ramadhan. Dan  diantara petunjuk rasulullah juga di penghujung ramadhan adalah mengelurkan zakat, Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata: Diwajibkan oleh rasulullah untuk mengeluarkan zakat fitrah sejumlah 1 sho’ dari kurma atau 1 sho’ dari gandum, kewajiban ini dibebankan atas hamba sahaya dan orang yang merdeka, laki-laki maupun perempuan, anak kecil maupun orang besar dari kalangan kaum muslimin dan diperintahkan untuk ditunaikan zakat itu sebelum orang keluar dari rumah mereka untuk menunaikan sholat ‘Ied.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar