Marilah
kita panjatkan puji syukur kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas
segala nikmat-Nya. Kita bersyukur telah melewati sebagian besar dari bulan yang
mulia ini, yaitu bulan Ramadhan. Bulan yang memiliki begitu banyak keutamaan
dan di syariatkan di dalamnya berbagai macam ibadah yang mulia. Semoga Allah subhanahu
wa ta’ala menerima segala amal kebaikan kita di dalamnya, Baik berupa
puasa, qiyamul lail, qiroatul qur’an, sodaqoh dan
amalan-amalan yang lainnya.
Shalawat
serta salam kepada panutan kita nabi Muhammad sallallahu’alaihi wasallam dan
kepada keluarga beliau, sahabat beliau, serta orang-orang yang selalu mengikuti
atau yang selalu istiqomah di atas sunnah sampai hari kiamat kelak.
Tidak
lupa pula pada kesempatan yang berbahagia ini, melalui mimbar Jum’at yang mulia
ini kami mewasiatkan kepada diri kami sendiri dan jama’ah sekalian untuk selalu
meningkatkan ketaqkwaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan
ketaqwaan yang sebenar-benarnya.
Sesungguhnya ketaqwaanlah sebaik-baik bekal baik di dunia maupun di
akhirat kelak. Allah ta’ala berfirman :
……………………………………………………………………………………………………………….......................................
“Berbekallah kalian dan sesungguhnya sebaik-baik bekal
adalah taqwa dan bertaqwalah kepadaKu wahai orang-orang yang berakal”
Waktu begitu cepat berlalu, kini kita telah berada
di penghujung Ramadhan. Sekarang kita telah berada pada hari ke-24 Ramadhan
yang artinya tinggal beberapa hari lagi bulan suci ini akan pergi meninggalkan
kita semua. Kalau kita perhatikan masyarakat di sekeliling kita, sebagian mereka
mulai disibukkan dengan hiruk-pikuk Idul Fitri. Luapan kegembiraan sudah
terasa. Mall-mall menjadi padat, lalu lintas padat menyarap. Banyak rumah-rumah
berganti cat, baju baru dan makanan enak telah siap.
Jika
demikian gempitannya masyarakat kita berbahagia di penghujung akhir Ramadhan,
tidak demikian dengan para sahabat dan salafussholih. Semakin dekat
dengan akhir Ramadhan, kesedihan justru menggelanyuti generasi terbaik itu.
Tentu saja kalau tiba hari raya Idul Fitri mereka bergembira karena pada saat
itu adalah hari kegembiraan.
Namun
di akhir Ramadhan ini ada nuansa kesedihan yang sepertinya jarang orang miliki
di masa sekarang ini(illa man rahima rabbih).
Mengapa
para sahabat Nabi dan orang-orang sholih bersedih ketika Ramadhan akan
meninggalkan mereka ? ………………………………………………………………………
1.
Patutlah orang-orang
beriman bersedih ketika menyadari Ramadhan akan pergi. Sebab dengan perginya
bulan suci itu, pergi pula barbagai keutamaan.
Bukankah ramadhan
bulan yang paling berkah yang pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu neraka
ditutup, bukankah hanya dibulan suci ini syaitan-syitan dibelenggu ??? maka
ibadah terasa ringan kemudian kaum
muslimin berada dalam puncak ibadah.
………………………………………………………………………………………………………………………………………….
“telah datang kepada kalian bulan
yang penuh berkah, diwajibkan atas kalian ibadah puasa, dibukakan pintu-pintu
syurga dan ditutuplah pintu-pintu neraka
dan serta para syaiton dibelenggu”.
Bukankah hanya
dibulan ramadhan seluruh amal kebajikan dilipat gandakan hingga tiada
batasannya ??????
Semua keutamaan
itu takkan bisa ditemui lagi ketika ramadhan pergi, ia akan datang pada bulan
ramadhan berikutnya, padahal tidak ada diantara yang dapat memastikan apakah ia
masih hidup dan sehat pada bulan ramadhan yang akan datang, maka pantaslah jika
para sahabat nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang sholeh
bersedih bahkan menangis ketika ramadhan akan pergi.
2.
Peringatan dari rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bahwasanya Ramadhan menjadikan seseorang diampuni
dosanya, jika seseorang mendapati ramadhan sebulan bersamanya dalam peluang
besar yang penuh keutamaan masih saja belum mendapatkan ampunan dari Allah,
maka benar-benar orang itu sangat rugi bahkan celaka. Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda:
…………………………………………………………………………………………………………………………………………………..
“celakalah seseorang yang mendapati
ramadhan kemudian ramadhan berlalu namun dosanya belum diampuni”
Masalahnya adalah,
apakah seseorang bisa menjamin bahwa dirinya mendapatkan ampunan itu sementara
jika ia tidak dapat ampunan dari Allah ta’ala, ia celaka, betapa hal yang tidak
dipastikan itu menyentuh rasa khauf para sahabat nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam dan orang-orang sholih. Mereka takut sekiranya menjadi orang-orang
yang celaka karna tidak mendapatkan ampunan dari Allah ta’ala, padahal ramadhan
akan segera pergi. Maka merekapun menangis, meluapkan ketakutannya kepada Allah
seraya bermunajat kepada Allah agar amal-amalnya diterima oleh Allah ta’ala
……………………………………………………………………………………………………………………………………………………
“wahai Rabb kami terimalah puasa
kami, sholat kami, ruku’ kami, sujud kami, dan tilawah kami. Sesungguhnya engkau
Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.
Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam pernah bersabda yang diriwayatkan oleh imam bukhori
……………………………………………………………………………………………………………………………………
“Sesungguhnya setiap amal itu
tergantung dengan penutupnya”
Untuk itu ada
beberapa nasehat yang hendaknya diperahatikan oleh kita semua dipenghujung
ramadhan ini:
1.
Meningkatkan ibadah kepada
Allah ta’ala
Kegiatan
rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat awal dibulan ramadhan sama
seperti bulan-bulan sebelumnya, tetapi begitu memasuki sepuluh hari terakhir
dibulan ramadhan beliau mengecangkan ikat pinggang beliau artinya beliau
bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada Allah, dan beliau pula tidak
menggauli istri-istri beliau karna beliau I’tikaf. Aisyah radhiyallahu ‘anha
berkata: Bahwasanya rasulullah apabila masuk kesepuluh hari terakhir, beliau
mengecangakn kain sarungnya, menghidupkan malamnya dan membangunkan istri-istri
beliau. Dan demikian juga para sahabat
nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para salafus sholeh setelahnya,
mereka menjadikan penghujung ramadhan untuk fokus beribadah kepada Allah,
meraka puasa disiang harinya dan bangun berdiri dimalam harinya untuk beribadah
kepada Allah ta’ala.
2.
Istiqomah
Sesungguhnya
amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang istiqomah. Jangan
sampai kita menjadikan amalan ramadhan hanya sebagai amalan musiman. Dengan
berakhirnya ramadhan bukan berarti berakhir pula segala amalan kita hendaknya
kita senantiasa menjaga sholat dan ibadah kita lainnya baik yang wajib maupun
yang sunnah. Masih banyak puasa sunnah di luar ramadhan seperti puasa syawwal,
puasa 3 hari tiap bulan, puasa senin kamis dan puasa-puasa lainnya. Semoga kita
semua senantiasa beribadah kepada Allah sampai kematian menjemput kita. Allah
ta’ala berfirman
………………………………………………………………………………………………………………………………………………..
“Dan sembahlah
Rabb mu sampai datang kepadamu alyaqin(yakni ajal)”.
Dan intinya
adalah kita tidak hanya beribadah kepada Allah hanya pada bulan ramadhan saja
akan tetapi pada bulan-bulan yang lain juga.
3. Menghidupakan tunutnan rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam
Sebaik-sebaik
petunjuk adalah petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karna ia
adalah qudwah hasanah kita dalam segala hal, Allah berfirman:
“sesungguhnya
telah ada pada diri rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu”
Dan juga karna
semua amalan hanya akan diterima jika memenuhi dua syarat yaitu ikhlas kepada
Allah(memurnikan ibadah hanya kepada Allah) dan sesuai dengan tuntunan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Untuk itu hendaknya kita
berusaha menhidupkan tuntunan rasulullah dalam segala hal dan diantara petunjuk
rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dipenghujung ramadhan ini
adalah I’tikaf apalagi disepuluh malam yang terakhir, Aisyah radiyallahu ‘anha
berkata: rasulullah I’tikaf disepuluh hari terakhir dibulan ramadhan. Dan diantara petunjuk rasulullah juga di
penghujung ramadhan adalah mengelurkan zakat, Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu
‘anhuma berkata: Diwajibkan oleh rasulullah untuk mengeluarkan zakat fitrah
sejumlah 1 sho’ dari kurma atau 1 sho’ dari gandum, kewajiban ini dibebankan
atas hamba sahaya dan orang yang merdeka, laki-laki maupun perempuan, anak
kecil maupun orang besar dari kalangan kaum muslimin dan diperintahkan untuk
ditunaikan zakat itu sebelum orang keluar dari rumah mereka untuk menunaikan
sholat ‘Ied.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar